Lombok membutuhkan bantuan Anda! Setiap sen sangat berharga. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

English | Bahasa Indonesia

Berita

Relawan ROTA Kembali ke Bayat

24 December 2018

Titian dengan senang hati membantu Reach Out To Asia (ROTA) untuk kedua kalinya tahun ini membawa sejumlah relawan.

Sekitar 20 mahasiswa dan 4 Dosen dari The College of North Atlantic-Qatar (CNA-Q) mendaftar untuk pekerjaan relawan di sekolah kejuruan di Bayat, Klaten. Sekitar 150 siswa SMKN 1 Ngawen dari Kelas 10 hingga Kelas 12 berpartisipasi dari tangggal 17 – 21 Desember. Mereka bergiliran belajar lima topik: 1. Kesehatan dan Nutrisi 2. Kewirausahaan 3. Pengembangan Pribadi 4. Keselamatan dan Keamanan Pribadi 5. Keberlanjutan

Di kelas Kesehatan dan Nutrisi misalnya, siswa belajar tentang kebersihan sederhana seperti mencuci tangan yang benar dan kesehatan gigi. Di kelas Keselamatan dan Keamanan Pribadi, siswa dapat belajar cara membuat kata sandi yang aman untuk akun media sosial dan cara penggunaan tabung pemadam kebakaran. Relawan pun bergantian belajar bermain gamelan dan bahasa Jawa.

Yang istimewa dari perjalanan relawan kali ini bertepatan dengan Hari Nasional Qatar pada 18 Desember. Jauh dari Qatar tidak menghalangi relawan untuk merayakannya. Panitia ROTA membawa banyak benda dekorasi: selendang, pin, gelang dan bendera menghiasi ruang pertemuan sekolah dan siswa. Para relawan dan siswa bergiliran menyanyikan lagu kebangsaan masing-masing, diikuti dengan pidato singkat dari Kepala Sekolah dan sedikit tarian khas Qatar untuk menutup perayaan.

Di sela-sela kegiatan di SMKN 1 Ngawen, para volunteer juga melakukan kegiatan bersama kelompok wanita tani di desa Jarum, seperti membuat kompos organik, menanam buah serta membagikan tong sampah kepada warga sekitar. Selain itu volunteer juga berkesempatan untuk berkegiatan di CLC Titian yaitu mengecat pot bunga dengan anak-anak. (DWA)

Jatuh Tujuh Kali, Bangkit Delapan Kali

15 December 2018

Oleh: Joelle C. Warsono
Mentor: Wisnu Auri
Media: Acrylic di Tembok
Tanggal Pelaksanaan: 15-16 Desember 2018

Konsep ini didasarkan pada kata mutiara Jepang “Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali”.

Esensinya adalah setiap perjalanan ke puncak dibangun oleh banyak kegagalan. Di balik setiap kesuksesan mencapai puncak, tidak pernah ada jalan pintas; hanya “grit”, tekad dan daya juang.

Dalam proses ini, orang-orang yang berusaha dan mempunyai tekad untuk bertahan mengatasi kegagalan selama uji coba akhirnya mampu belajar dari pengalaman.

Karakteristik yang terutama disampaikan oleh kata mutiara ini adalah daya juang yang memiliki nilai tahan. Ini adalah pesan yang terutama harus ditegakkan kepada kaum muda saat mereka masih dalam tahun-tahun awal belajar, bertumbuh dan mengalami fase jatuh bangun.

Mural ini menggambarkan tujuh sosok anak yang sama, jatuh dalam posisi yang berbeda, mengerumuni anak ke-delapan yang berada di tengah.

Meski masih berada di tanah dan belum kokoh, setiap anak yang jatuh secara bertahap mampu berdiri sedikit lebih tinggi daripada sebelumnya. Maka suatu proses kemajuan dari benar-benar posisi paling bawah ke posisi hampir berdiri tegak.

Anak ke-delapan itu adalah anak yang menjadi pemenang, mengangkat obor menyala dengan sikap penuh kemenangan. Kegagalannya mengerumuni sosok sang pemenang, seolah-olah sang pemenang adalah api unggun, menyala terang yang menunjukkan harapan, kebaikan dan kemenangan.

Meskipun anak ke-delapan bersinar paling terang, tujuh kegagalannya masih ada dalam gambar. Meskipun dalam bayang-bayang, mereka tidak dilupakan; pesannya adalah kegagalan kita adalah apa yang menjadikan kita siapa dan apa kita hari ini. Mereka tidak boleh disembunyikan dan mereka tidak boleh dilupakan jasanya. Sebelum meraih keberhasilan, kegagalan adalah hal yang wajar. Tanpa mengalami kegagalan, kita tidak akan pernah belajar untuk berhasil.

Menemukan Diriku di Kelas Jahit

12 December 2018

Bermula tiga bulan yang lalu ketika seleksi untuk kelas menjahit diadakan di CLC Titian Tangerang Selatan (CLC Tangsel). Penyaringan ini untuk menilai komitmen mereka mengikuti kursus dua jam per minggu. Lima belas wanita lolos seleksi dan mulai belajar menjahit setiap hari Rabu.

Ibu Wiwin, orangtua dari Sahrul, Generasi 1 Program Beasiswa, yang juga seorang penjahit menawarkan diri menjadi pengajar.
Semua wanita tampaknya menginjak pedal gas sejak saat itu.

Tiga bulan kemudian, kelas jahit ini sekarang dapat membuat pouch kosmetik dengan kain perca, celana pendek dan kerudung. Dalam waktu yang singkat, kebersamaan dan ikatan yang dibina melalui sesi menjahit ini membuat mereka berani dan percaya diri. Bagaimana bisa? Mereka mengangkat ketua kelompok dan menetapkan aturan. Mereka melakukan evaluasi di akhir sesi, menilai tidak hanya kemajuan keterampilan menjahit, tetapi juga perkembangan individu, apakah setiap anggota sudah menjalankan sikap tanggung jawab, komitmen, percaya diri dan kerjasama tim. Kontribusi uang kas juga dilakukan untuk membeli kain dan keperluan kelompok lainnya.

Kelas Jahit ini memberikan nuansa lain dari aktivitas rutin sebagai ibu rumah tangga sembari menambah pundi keuangan keluarga. Ketika harkat perempuan ditingkatkan, dampaknya akan dirasakan oleh keluarga mereka masing-masing.

Sama halnya Titian mendorong penerima beasiswa untuk bermimpi besar, para wanita ini juga bermimpi besar. Mereka bermimpi bisa memproduksi bermacam produk dengan scala konveksi dan berharap akan ada pelatihan di masa depan yang bisa mendukung aspirasi mereka. (NF)