Lombok membutuhkan bantuan Anda! Setiap sen sangat berharga. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

English | Bahasa Indonesia

Berita

Diskusi Terbuka dengan Orang Tua Penerima Beasiswa Bayat

21 November 2019

Program beasiswa Titian Foundation bertujuan meningkatkan kualitas hidup siswa penerima manfatnya menjadi lebih berdaya melalui akses pendidikan. Selain memberikan bantuan pembiayaan, kegiatan pendampingan untuk pengembangan karakter langsung kepada siswa, program pendampingan juga membantu mendorong terciptanya lingkungan keluarga yang kondusif. Salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah Parent Meeting.

Jika sebelumnya kami menerapkan metode seminar dengan mengangkat tema tertentu, untuk tahun ini kami merubah metodenya. Pertemuan pendamping siswa dengan orang tua/wali dilakukan secara bertahap, berkomunikasi dua arah dan membuka diskusi. Pertemuan untuk oranng tua siswa kelas X (Generasi 12) dilaksanakan pada Selasa – Rabu, 19-20 November 2019, kelas XI (Generasi 11) dilaksanakan, Selasa – Rabu, 12-13 November 2019. Dalam pertemuan ini pendamping menjelaskan seluruh program kegiatan yang sudah dilaksanakan atau diterima siswa, catatan secara umum bagaimana siswa berproses. Proses diskusi diangkat melalui pertanyaan mengenai bagaimana anak berproses di rumah dan apakah orang tua mengalami kesulitan dalam mendampingi siswa agar sejalan dengan yang sudah Titian lakukan. Secara umum orang tua menyampaikan perkembangan yang positif siswa di rumah setelah mereka mengikuti kegiatan di Titian, khususnya kemandirian dan tanggung jawab. Hal yang masih menjadi catatan dan perlu peningkatan adalah pengelolaan waktu, skala prioritas dan pengendalian emosi.

Khusus untuk kelas XII (Generasi 10) pertemuan dilaksanakan dalam 1 sesi pada Kamis, 21 November 2019. Topik pertemuan adalah mempersiapkan siswa setelah lulus SMA/SMK, memasuki dunia kuliah atau dunia kerja. Orang tua diajak untuk mendukung cita-cita anak dan menyambut terbuka saat anak mengalami kegagalan. Dalam kesempatan ini pendamping mengundang salah satu orang tua mantan penerima beasiswa Titian Foundation dari Generasi 3 yang dalam keterbatasan ekonomi, pekerjaan sebagai tukang becak, memberi dukungan kepada anak yang ingin merantau di Jakarta dan bisa menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pariwisata bahkan mendapatkan gelar ganda dari program kerjasama dengan sebuah universitas di Thailand. Narasumber lain adalah seorang yang pernah bekerja sebagai Dosen di perguruan tinggi swasta selama 19 tahun. Beliau memberi gambaran mengenai dunia kuliah dan dukungan yang perlu diberikan selama anak menempuh kuliah.

Kerjasama dan sinergi terus diupayakan agar program ini mampu menyeberangkan penerima manfaatnya dalam kualitas hidup yang lebih baik. (FD)

Menebar Cinta dengan Cerita

10 November 2019

Hari minggu tanggal 10 November 2019 yang lalu menjadi hari yang mengasyikkan bagi anak-anak kampung Nyanggit, desa Rembitan di Lombok Tengah. Bagaimana tidak, setelah bersama seluruh warga bergotong-royong membersihkan kampung, anak-anak (laki-laki saja) bisa mandi bersama di salah satu sumber mata air di desa Rembitan yaitu Mertak Tune. Dua kegiatan ini dilakukan dengan keceriaan anak-anak yang alami, penuh canda dan tawa. Setelah mandi, keceriaan pun berlanjut dengan bermain kelereng bersama. Permainan tradisional ini masih sering dilakukan anak-anak disini.

Kebahagiaan anak-anak semakin membuncah oleh karena kedatangan tiga orang kakak-kakak Komunitas Dongeng Keliling (Doing) dari Solo. Bekerjasama dengan Titian Foundation dan Klub Baca Perempuan, kakak-kakak ini mengadakan acara mendongeng untuk anak-anak kampung Nyanggit dan juga workshop mendongeng untuk ibu-ibu. Sebelumnya, mereka telah mendongeng dibeberapa wilayah di Kabupaten Lombok Utara. Kakak-kakak ini memvolunteerkan diri, mengabdikan tenaga, waktu dan pikiran juga biaya untuk anak-anak dan ibu-ibu di Lombok.

Anak-anak sangat antusias mengikuti acara mendongeng ini, selain karena tidak pernah ada acara seperti ini, mereka juga kagum dengan kakak-kakak pendongeng yang membawakan dongeng dengan sangat baik dan menyenangkan. Total ada tiga cerita yang dibawakan kakak-kakak dari komunitas Dongeng Keliling. Cerita dongeng yang dibawakan kakak-kakak ini sangat persuasif berisikan pesan-pesan moral seperti mengajak anak-anak untuk menjaga lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, saling berbagi juga pesan untuk saling menyayangi. Mereka membawakan cerita dengan semangat dan kreatif. Misalnya saja pada dongeng fabel tentang monyet bernama Moli, kakak yang memainkan peran Moli bisa menirukan suara monyet sekaligus gerakan monyet begitu mirip dengan monyet sungguhan. Tingkah kocak kakak pendongeng itu membuat tawa anak-anak pecah, mereka sangat terhibur. Anak-anak juga diajak bernyanyi bersama dan menirukan gerakan lagu disela-sela cerita. Lagunya sederhana dan terkait dengan pesan atau makna cerita yang dibawakan. Salah satu lagu berlirik:

“Bila melihat sampah, diambil, dibuang…dibuangnya dimana?…di tempat sampah”

Setelah bersenang-senang dengan anak-anak, kakak-kakak pendongeng memberikan workshop dongeng kepada ibu-ibu. Kakak-kakak pendongeng memberikan informasi mengenai jenis-jenis cerita dongeng antara lain, fable, legenda, cerita rakyat, dll. Mereka juga memperkenalkan teknik sederhana dalam mendongeng seperti penggunaan properti sederhana ; boneka tangan, tongkat dll, jenis intonasi sesuai karakter yang dimainkan, mimik wajah, gestur tubuh, gerak dan lagu. Kakak-kakak pendongeng juga menekankan bahwa dengan mendongeng daya imajinasi dan kemampuan berpikir anak akan berkembang. Demikian pula anak-anak dapat mengadaptasi pesan moral atau nilai-nilai baik dalam cerita yang harapannya dapat diaplikasikan dalam hidup berkeseharian anak-anak yang pada akhirnya bermuara pada karakter baik anak-anak.

Selain pemberian materi tentang mendongeng, ibu-ibu kemudian diajak untuk mempraktekkan teknik-teknik yang dibagikan kakak-kakak. Ketika kakak-kakak pendongeng meminta ibu-ibu untuk praktek mendongeng, ada salah satu ibu sepuh kampung Nyanggit yang kemudian maju untuk mendongeng menggunakan bahasa Sasak. Ternyata beliau sangat lihai dalam mendongeng serta memiliki banyak wawasan cerita rakyat Lombok. Beliau selalu bercerita kepada anak-anaknya sewaktu mereka kecil baik sebelum tidur ataupun diwaktu senggang anak. Sayangnya kebiasaan mendongeng/bercerita saat ini tidak lagi dipraktekkan oleh generasi setelah beliau. Ibu-ibu yang mengikuti workshop misalnya -yang saat ini berumur 35 tahun sampai 40an-sebagian besar sudah tidak mendongeng atau bercerita ke anak-anaknya.

Kebiasaan mendongeng atau bercerita adalah budaya bertutur yang perlu terus dilestarikan. Kehadiran kakak-kakak pendongeng ini membawa semangat dan ketercerahan pikiran mengenai pentingnya dongeng, mengenai manfaat dongeng untuk anak-anak. Ternyata, laku volunteer kakak-kakak pendongeng ini adalah manifestasi dari jargon mereka yang berbunyi “Menebar cinta, dengan cerita”. Sukses terus kakak-kakak pendongeng komunitas Dongeng Keliling, semoga ilmu dan semangat yang dibawa untuk warga kampung Nyanggit bisa ditiru untuk dilakukan sehingga membawa perubahan baik dan lestarinya budaya bertutur. (TA)

Peletakan Batu Pertama CLC Rembitan

29 August 2019

Matahari telah terik di pagi hari namun tidak meyurutkan kesibukan warga desa bersiap-siap untuk acara selamatan peletakan batu pertama, menandai dimulainya pembangunan Sentra Pembelajaran Masyarakat (CLC) di dusun Rebuk 1, desa Rembitan, kabupaten Lombok Tengah, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

CLC Titian didirikan diatas tanah seluas 600 m2, berbatasan dengan rumah penduduk dan sawah, dengan perkiraan akan selesai enam hingga delapan bulan kedepan. Dusun Rebuk 1 layaknya kanvas kosong. Masyarakat Rebuk 1 telah lama tertidur – dalam keterpurukan. Tidak terbayangkan kehidupan yang lebih baik, apalagi bermimpi besar. Karena itu, Titian ingin memberikan pemberdayaan agar kehidupan mereka bisa lebih baik. CLC Titian akan menjadi sarana pemberdayaan melalui pendidikan informal. CLC ini nantinya akan dilengkapi dengan perpustakaan, lab komputer dan ruang terbuka untuk kegiatan lokakarya atau tempat berkumpul masyarakat.

Catatan kami sejauh ini, air dan sanitasi adalah tantangan di sana. Pendidikan adalah tantangan di sana. Ketika dirasa sudah cukup banyak tantangan dihadapan, pernikahan dini dan buta huruf orang dewasa juga ada dalam daftar.

Merupakan pemandangan biasa melihat anak SD di desa ini berjualan suvenir setelah sekolah usai di tempat wisata dekat pantai Kuta Mandalika. Mereka pulang ke rumah sejenak untuk makan malam lalu kemudian pergi lagi ke tempat keramaian turis hingga larut malam agar keluarga mereka bisa punya sedikit uang untuk mencukupi kebutuhan hidup hari berikutnya.

Empat petani telah Titian utus untuk mengikuti kursus permakultur di Imogiri, Yogyakarta pada bulan Maret 2019, agar mereka bisa memberdayakan pola dan fitur tanah mereka dan mengubahnya menjadi sumber daya produktif seperti biogas dan pupuk organik. Namun penerapannya masih berjalan lambat dikarenakan keterbatasan air. Titian bermitra dengan Soroptimist International of Jakarta (SIJ) untuk mengatasi masalah air dan sanitasi ini.

Perempuan Sasak di Rebuk 1 diwariskan keterampilan menenun, yang juga digunakan sebagai indikator bahwa mereka siap untuk dinikahkan. Kelompok kerja (Pokja) untuk tenun telah disiapkan agar mereka bisa memenun songket, yaitu jenis tenun yang menggunakan benang emas / perak. Sebagai gambaran, tenun yang biasa dilakukan perempuan Rebuk 1 hanya memakai satu batang bambu, tetapi tenun songket bisa melibatkan seratus batang bambu. Kerumitan ini menakutkan, bahkan untuk penenun terampil sekalipun. Titian melihat dengan peningkatan keterampilan memenun melalui magang ini tidak akan hanya meningkatkan potensi pendapatan keluarga tetapi yang terlebih penting adalah meningkatkan harga diri mereka. Pelatihan tenun songket ini disponsori juga oleh SIJ.

Lombok adalah daerah pertama yang Titian jajaki di luar pulau Jawa. Perjalanan di sini akan panjang dan curam dan Titian menyambut baik donatur dan mitra yang mempunyai semangat yang sama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kurang mampu.