English | Bahasa Indonesia

Berita

Ikatan yang Mengikatkan Kita Bersama

2 February 2018

“Rumah, sejauh apapun berada, dia kan selalu menjadi tujuan terakhir untuk kembali pulang.”

Titian Foundation sudah menjadi rumah kedua bagi para penerima beasiswa yang dikenal dengan nama Titianers. Tiga tahun para Titianers berkegiatan di Titian untuk mengembangkan diri mereka. Sibuk, itu sudah pasti. Menjadi Titianers berarti menjadi seseorang yang berbeda dari anak SMA/K pada umumnya. Seorang Titianers harus bisa membagi waktunya untuk sekolah dan berkegiatan di Titian. Belum lagi jika ia memilih untuk berorganisasi di sekolah atau lingkungannya. Dalam kesibukannya, seorang Titianers akan lebih dekat dengan Titianers lainnya dan Titian itu sendiri.

Setelah tiga tahun berlalu, tibalah saat dimana para Titianers melepaskan predikat siswa dan anak beasiswa untuk menjadi seorang alumni. Tidak ada surat kesepakatan lagi, namun secara batin para alumni masih terikat satu sama lain dengan sesama alumni dan Titian. Oleh karena itu, beberapa alumni mencetuskan ide untuk membuat sebuah wadah silaturahmi bagi para alumni. IKATIFO, begitulah nama wadah alumni yang merupakan singkatan dari Ikatan Alumni Titian Foundation.

Kini, IKATIFO memasuki tahun ke tujuh. Para alumni dari tujuh Generasi tersebar di berbagai tempat di Indonesia maupun luar negeri, untuk melanjutkan kuliah, bekerja atau berwirausaha. Pengurus IKATIFO biasanya dua generasi yang baru saja lulus SMA/K. Sebagai wadah dari tujuh generasi, IKATIFO menyelenggarakan beberapa program kerja, seperti pertemuan rutin dua bulanan, workshop/seminar, social project, dan agenda terbesar berupa Halal Bi Halal.

Di bawah koordinasi Humas IKATIFO, alumni dibagi menjadi 8 wilayah, yakni Klaten, Yogyakarta, Solo, Semarang, Jabodetabek, Jatim, luar Jawa dan luar negeri. Kegiatan pertemuan biasanya dilaksanakan per wilayah dan setiap wilayah memiliki koordinator wilayah (korwil). Pertemuan bisa berupa kegiatan seperti berkumpul dan sharing, nonton film bersama, makan bersama, dan lain-lain.

Untuk mengembangkan soft skill alumni, pengurus IKATIFO juga membantu menyelenggarakan pelatihan seperti workshop kewirausahaan dan seminar mengenai cara menghadapi wawancara pekerjaan. Para alumni juga bisa memanfaatkan social project untuk membagikan pengalamannya kepada Titianers aktif.

Puncak kegiatan tahunan adalah Halal Bi Halal IKATIFO. Seperti kutipan di awal, Titian adalah sebuah rumah dimana sejauh apa para alumni berpetualang, maka akan kembali ke Titian lagi untuk bersilaturahmi. Diselenggarakan saat libur lebaran, Halal Bi Halal IKATIFO merupakan tempat berkumpul alumni antar generasi untuk saling bersua dan mengenal alumni beda generasi. Para alumni berharap IKATIFO tidak hanya bermanfaat bagi para alumni, namun juga bermanfaat bagi orang lain. (SSD)

Meningkatkan Minat Baca Anak Melalui Kegiatan Literasi

15 January 2018

Kegiatan Literasi adalah salah satu kegiatan yang paling ditunggu oleh anak anak Sekolah Dasar (SD) di Bayat. Kegiatan ini dimulai sejak September 2017 dengan tujuan mengenalkan dan meningkatkan budaya baca pada anak dengan cara mendatangi sekolah dan membawa buku untuk dibaca atau anak-anak mengunjungi CLC kami. Saat ini, CLC Titian berkolaborasi dengan tiga SD, dua SD dengan kunjungan bulanan, yaitu MI Muhammadiyah 1 Paseban dan SD Nengahan and kunjungan dua minggu sekali ke CLC Titian oleh SDN 3 Paseban.

Hidup di zaman di mana kita bisa tahu tentang apapun, kapanpun dan dimanapun melalui gawai dan internet, maka menjadi suatu kepuasan tersendiri melihat antusiasme yang ditunjukkan anak-anak setiap kali kegiatan literasi ini diadakan dan begitu bersemangatnya membaca buku.

Perpustakaan kami di CLC Bayat menyediakan banyak pilihan bacaan, sekitar 2.500 judul. Seri buku yang biasanya diperkenalkan kepada anak-anak adalah seri anak bersyukur, profesi, binatang, princess, why?, dan lain-lain. Dari buku-buku tersebut, yang paling diminati ialah seri dinosaurus dan princess.

Setelah selesai membaca, anak akan berdiskusi dengan temannya tentang buku yang dibacanya dan kemudian membandingkannya. Selain itu, mereka bermain beberapa gim dan maju untuk bercerita mengenai buku yang dibaca didepan teman-teman lainnya. Hal ini membuat mereka sangat terkesan, “Literasi itu menyenangkan, karena banyak teman dan bisa bermain, jadi membacanya terasa lebih menyenangkan”, mengutip Isnaini, siswa kelas VI SDN 3 Paseban. (NL)

Hingar-Bingar Upaya Meningkatan Kualitas Guru

1 December 2017

Artikel terbaru yang dimuat di Kompas, 28 November 2017, menyentuh salah satu sendi utama Titian, yaitu Program Peningkatan Kualitas Guru (TQI).

Artikel tersebut mengupas tentang masih banyaknya tantangan dalam meningkatkan mutu dan kapasitas guru. Di satu sisi Pemerintah menerapkan sertifikasi sebagai cara, namun kenyataannya hanya menyentuh sisi kognitif guru, padahal kapasitas guru mencakup lebih luas: keterampilan, kreativitas, inovasi, kepribadian dan keteladan, seperti yang dijelaskan oleh Dr. Alwen Bentri, M.Pd, Dekan Fakultas Pendidikan dari Universitas Negeri Padang.

Alwen lebih jauh menjelaskan bahwa pelatihan guru yang diterapkan oleh Pemerintah tidak berkelanjutan. Tidak ada kegiatan lain setelah pelatihan selesai, apalagi evaluasi untuk mengukur dampak terhadap kognitif, mentalitas dan perilaku mereka.

Di Titian, pelatihan TQI dilakukan selama dua minggu dalam pengasingan. TQI bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pedagogi, sosial dan kepribadian guru. Di sini, guru diperkenalkan cara belajar yang menyenangkan, menggunakan kreativitas dan permainan dan juga memberi pandangan baru tentang profesi mulia mereka.

Namun, perbedaan utama dari TQI Titian adalah masa pendampingan selama tiga bulan yang diterapkan setelah pelatihan selesai. Pertemuan berkala dengan guru peserta berfungsi untuk memastikan penerapannya dan media untuk berbagi cerita sukses dan mencari solusi untuk mengatasi hambatan mereka. Kegiatan pendampingan inilah cara Titian menjawab masalah keberlanjutan.

Tanggapan yang kami terima dari alumni TQI kebanyakan pun menggembirakan. Perubahan paling mencolok adalah hubungan antara guru dengan siswa dan tingkat presensi siswa, dan sebagai imbasnya nilai akademis siswa dan peringkat sekolah terjadi peningkatan. Hal ini dapat dicapai karena “revolusi” yang dilakukan oleh guru dalam mengajar dan cara pendekatan mereka terhadap siswa.

Saat ini, TQI telah memberi manfaat kepada lebih dari 1.800 guru di 562 sekolah di daerah Yogyakarta dan Klaten sejak Program ini bergulir di tahun 2010. Sebuah kontribusi yang kecil, dan oleh sebab itu Titian berharap dapat menyebarkan manfaat ini kepada lebih banyak guru lagi di Indonesia.