Lombok membutuhkan bantuan Anda! Setiap sen sangat berharga. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

English | Bahasa Indonesia

Berita

Bersama Kita Bisa Menjadi Lebih Baik

26 April 2019

Seperti sudah diisyaratkan di awal tahun, Titian Foundation (Titian) berencana untuk bekerja di Lombok. Beberapa kegiatan sudah dikerjakan, seperti membuka aplikasi untuk Program Beasiswa SMA/K di Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, lalu diikuti dengan proses seleksi.

Namun, setelah kajian lebih lanjut, Titian menemukan satu dusun suku Sasak di Desa Rembitan, yaitu Rebuk I di Lombok Tengah juga layak sebagai “investasi”. Rebuk I hanya berjarak 500 meter dari dusun wisata populer Sade, tetapi kondisi kehidupan mereka jauh dari gambar yang indah itu.

Hampir separuh (49%) populasi Kecamatan Pujut, di mana Desa Rembitan berada, masih dalam kategori “prasejahtera”, yang artinya mereka masih tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar minimum, dengan 53% kepala keluarga bahkan tidak lulus sekolah dasar.

Akses untuk air dan sanitasi yang layak masih menjadi tantangan di dusun ini. Masyarakat di Rebuk I hanya bisa mandi seminggu sekali dan kamar mandi berdindingkan tanaman tanpa selokan masih digunakan saat ini. Penyediaan fasilitas air dan sanitasi akan sangat membantu kebersihan mereka dan kemudian memperbaiki tingkat kesehatan dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

Peluang untuk mendapatkan hasil dan dampak yang signifikan sangatlah besar jika kita bisa mengubah desa ini. Saat ini Tititan bahu membahu dengan Soroptimist International of Jakarta (SIJ) yang mempunyai program penyediaan air dan sanitasi dan pemberdayaan perempuan. SIJ telah berkomitmen untuk mensponsori penggalian sumur dan pembuatan kamar mandi untuk setiap keluarga di Rebuk I. Titian akan mengambil bagian dalam Program Pengembangan Masyarakat (Comdev) lainnya, sehingga peningkatan taraf hidup akan dinikmati merata oleh semua masyarakat dusun.

Pekerjaan utama masyarakat Rebuk I adalah bertani dan sebagian besar juga memiliki sapi. Dengan pengetahuan tentang bertani, Titian melihat hal ini sebagai peluang untuk proyek biogas. Titian telah mengirim empat petani untuk mengikuti kursus permakultur di Imogiri, Yogyakarta pada 16-29 Maret 2019, sehingga mereka bisa menerapkan pola pertanian yang sesuai dengan fitur tanah dan menjadikannya sumber daya produktif seperti biogas dan pupuk organik.

Satu bulan setelah kursus permakultur, salah satu petani tersebut, Lalu Talam, terus berusaha untuk mendesain ulang dusunnya dengan mengintegrasikan fasilitas untuk air, sanitasi dan biogas. Ia dengan bangga menunjukkannya kepada Ibu Isla Winarto dari SIJ ketika Ibu Isla datang untuk meresmikan proyek air dan sanitasi pada 26 April 2019.

Dengan rencana pemerintah untuk membangun sirkuit MotoGP di Mandalika, Rembitan akan menjadi lokasi strategis untuk peluang pariwisata dan Titian dapat menjadi sumber pendidikan informal dan soft skill dan menjadikan Rembitan sebagai pusat pengembangan ekowisata.

Workshop Gerakan Literasi Siswa SMA

23 March 2019

Pernahkah terpikir mengapa kita malas membaca buku? Tentu, bacaan online lebih menarik karena hanya pendek dengan bahasa lebih heboh, tetapi kadang-kadang nyaris tidak ada esensinya sama sekali. Rupanya, intonasi dan perhatian pada tanda baca bisa menjadi perbedaan besar dan membuat kegiatan membaca menjadi menyenangkan.

“Gerakan Literasi” adalah bagian dari Program CLC Titian dan CLC kami di Kaliurang, Yogyakarta, tidak terkecuali. Gerakan ini telah berhasil di kalangan siswa sekolah dasar dan kami ingin menularkan antusiasme yang sama untuk membaca buku dikalangan siswa sekolah menengah. Nyatanya kegiatan literasi yang dilakukan SMAN 1 Pakem masih pada tahap dini yaitu baru pada pembiasaan. Tahap selanjutnya adalah pembelajaran dan mencari substansi dari apa yang dibaca.

Kegiatan workshop “Gerakan Literasi Sekolah” di CLC Titian Kaliurang dilaksanakan pada hari Sabtu, 23 Maret 2019, dengan pembicara Bpk Nuradi Indra Wijaya dari TBM Mata Aksara Yogyakarta. Peserta workshop adalah Satgas (Satuan Tugas) Literasi SMAN 1 Pakem.

Dalam workshop tersebut siswa dibentuk beberapa kelompok untuk diskusi tentang sebuah buku. Setiap kelompok diberikan kertas dan alat tulis untuk membuat ringkasan dari hasil membaca buku yang terdiri atas:

  1. Membaca bersama
  2. Mencari quote dari isi buku
  3. Mind map: tokoh, alur, latar waktu dan tempat

Empat peserta diberikan tugas bagian dokumentasi, mencakup pengambilan foto, video dan membuat caption yang kemudian dipublikasikan di media sosial agar dampaknya lebih meluas atau viral.

Diskusi berlangsung aktif dari setiap kelompok dan hasil tersebut dipresentasikan kepada peserta yang lain. Pada saat presentasi, terlihat keterampilan membaca beberapa siswa masih kurang – intonasi dan tanda baca – juga kepercayaan diri ketika berada di depan umum. Setelah workshop ini, diharapkan setiap kelas bisa menerapkan apa yang telah dipelajari, dan meyebarkan semangat gerakan litearsi ke teman-teman siswa lainnya di sekolah. (AW/DAP)

Kartini Merayakan Pencapaian

27 February 2019

Satu tahun berlalu dan dengan hanya menyisakan tiga anggota aktif – Ibu Ratih, Ibu Inung dan Ibu Rita – grup jumputan bernama Kartini masih berdiri kokoh. Mereka sudah banyak melalui berbagai tantangan selama setahun ini, dari kain luntur, jahitan yang masih kurang rapi, hingga pemasaran produk, tetapi mereka tidak patah semangat, malah menjadikan mereka lebih berani dan percaya diri hingga bisa mencapai kemajuan.

Salah satu kemajuan yang berarti yaitu bisa mengadakan lokakarya jumputan. Lokakarya pertama diadakan pada tanggal 30 Oktober 2018, sebuah catatan pencapaian manis yang sangat membanggakan bagi Kartini seiring menyambut perayaan satu tahun kebersamaan mereka.

Lokakarya Shibori dibuat dan dipersiapkan sendiri oleh Kartini, dari mulai pembuatan brosur, penyebaran brosur atau mencari peserta hingga persiapan dekorasi. Selain itu antusias adanya lokakarya shibori ini juga dirasakan oleh keluarga Kartini, salah satunya suami ibu Ratih yang datang membantu untuk memasang Dekorasi yang dibantu oleh anak-anak Beasiswa Titian, hal ini menunjukkan bahwa kekeluargaan yang terjalin antara Titian, anak beasiswa Titian dan Kartini sudah erat, sehingga mereka tidak berat hati untuk saling menolong.

Lokakarya ini dihadiri oleh sekitar 15 ibu-ibu, dimana setiap orang dikenai biaya yang terbilang murah, Rp 25.000, dengan mereka mendapatkan 4 kain ukuran 50 x 50 cm, konsumsi, sarung tangan dan stiker Kartini. Sedangkan jika dibandingkan dengan workshop shibori diluar mencapai harga ratusan ribu, sehingga salah satu alasan ibu-ibu ramai ikut dikarenakan harga yang sangat murah dengan fasilitas yang sangat baik. Lokakarya ini sendiri berdurasi selama 3 jam tidak menyurutkan antusiasme peserta dalam mengikutinya, dan acara dibuat sangat menarik dengan adanya Ice breaking, ibu-ibu menari bersama agar lebih focus. Di penghujung acara diadakan sharing dengan peserta seputar shibori dan kemudian ditutup dengan testimoni peserta tentang acara tersebut.

Ibu Dwi sebagai peserta memberikan kesan nya “Acaranya sangat bagus, saya fikir acaranya akan membosankan dengan hanya praktek shibori dan kemudian pulang, ternyata acara dengan harga yang sangat murah ini, saya dapat teman baru, ilmu baru dan acaranya tidak membosankan adanya ice breaking, dapat snack dan bisa sharing tentang kain jumputan. Saya harap sering-sering diadakan acara seperti ini dengan pola-pola yang baru dan semangat untuk grup Kartini.”

Sama halnya dengan harapan Grup Kartini, bahwa mereka berharap mereka masih akan mengadakan lokakarya shibori dengan target pasar yang berbeda, seperti kepada anak sekolah dasar atau anak SMA, agar mereka mengenal budaya kita sendiri. (NF)