Lombok membutuhkan bantuan Anda! Setiap sen sangat berharga. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

English | Bahasa Indonesia

Berita

Kartini Merayakan Pencapaian

27 February 2019

Satu tahun berlalu dan dengan hanya menyisakan tiga anggota aktif – Ibu Ratih, Ibu Inung dan Ibu Rita – grup jumputan bernama Kartini masih berdiri kokoh. Mereka sudah banyak melalui berbagai tantangan selama setahun ini, dari kain luntur, jahitan yang masih kurang rapi, hingga pemasaran produk, tetapi mereka tidak patah semangat, malah menjadikan mereka lebih berani dan percaya diri hingga bisa mencapai kemajuan.

Salah satu kemajuan yang berarti yaitu bisa mengadakan lokakarya jumputan. Lokakarya pertama diadakan pada tanggal 30 Oktober 2018, sebuah catatan pencapaian manis yang sangat membanggakan bagi Kartini seiring menyambut perayaan satu tahun kebersamaan mereka.

Lokakarya Shibori dibuat dan dipersiapkan sendiri oleh Kartini, dari mulai pembuatan brosur, penyebaran brosur atau mencari peserta hingga persiapan dekorasi. Selain itu antusias adanya lokakarya shibori ini juga dirasakan oleh keluarga Kartini, salah satunya suami ibu Ratih yang datang membantu untuk memasang Dekorasi yang dibantu oleh anak-anak Beasiswa Titian, hal ini menunjukkan bahwa kekeluargaan yang terjalin antara Titian, anak beasiswa Titian dan Kartini sudah erat, sehingga mereka tidak berat hati untuk saling menolong.

Lokakarya ini dihadiri oleh sekitar 15 ibu-ibu, dimana setiap orang dikenai biaya yang terbilang murah, Rp 25.000, dengan mereka mendapatkan 4 kain ukuran 50 x 50 cm, konsumsi, sarung tangan dan stiker Kartini. Sedangkan jika dibandingkan dengan workshop shibori diluar mencapai harga ratusan ribu, sehingga salah satu alasan ibu-ibu ramai ikut dikarenakan harga yang sangat murah dengan fasilitas yang sangat baik. Lokakarya ini sendiri berdurasi selama 3 jam tidak menyurutkan antusiasme peserta dalam mengikutinya, dan acara dibuat sangat menarik dengan adanya Ice breaking, ibu-ibu menari bersama agar lebih focus. Di penghujung acara diadakan sharing dengan peserta seputar shibori dan kemudian ditutup dengan testimoni peserta tentang acara tersebut.

Ibu Dwi sebagai peserta memberikan kesan nya “Acaranya sangat bagus, saya fikir acaranya akan membosankan dengan hanya praktek shibori dan kemudian pulang, ternyata acara dengan harga yang sangat murah ini, saya dapat teman baru, ilmu baru dan acaranya tidak membosankan adanya ice breaking, dapat snack dan bisa sharing tentang kain jumputan. Saya harap sering-sering diadakan acara seperti ini dengan pola-pola yang baru dan semangat untuk grup Kartini.”

Sama halnya dengan harapan Grup Kartini, bahwa mereka berharap mereka masih akan mengadakan lokakarya shibori dengan target pasar yang berbeda, seperti kepada anak sekolah dasar atau anak SMA, agar mereka mengenal budaya kita sendiri. (NF)

Pengalaman Saya Menjadi Relawan di Titian

2 February 2019

Pada tanggal 27 Januari hingga 1 Februari yang lalu saya mendapat kesempatan yang luar biasa yaitu bisa melakukan kegiatan sebagai volunteer di Titian Foundation di Bayat dan bertemu serta bekerja dengan orang-orang yang hebat, positif dan ramah. Pertama kali sampai di Titian, saya disambut dengan hangat dan penuh senyum. Saya senang dapat bertemu dengan Mbak Nurul, salah satu staff yang sudah membantu dan menemani saya selama berkegiatan di Titian.

Bayat sendiri adalah tempat yang sangat spesial. Berlokasi hanya satu jam jauhnya dari hiruk pikuk kota Jogja, dengan pemandangan indah, penuh dengan tanaman yang subur dan bisa bersepeda menelusuri desa-desa hingga ke bukit dengan pemandangan yang mempesona. Titian terletak di diantara keindahan ini dengan lingkungan yang bersih dan penuh warna, sehingga menjadikan Titian tidak hanya sebagai lingkungan belajar tapi juga tempat mengajar yang sangat menyenangkan dan hidup. Melihat anak-anak dari desa sekitar datang setiap hari untuk membaca, bermain, mewarnai, membuat origami atau mengikuti kelas komputer merupakan hal yang sangat menyenangkan.

Penulis Rita Mae Brown pernah berkata, “Bahasa merupakan peta suatu budaya. Bahasa bisa mengungkapkan dari mana asal seseorang dan ke mana ia pergi.” Kutipan tersebut senada dengan minat dan dedikasi anak-anak dalam mempelajari ketrampilan baru, terutama Bahasa Inggris. Mereka sangat bersemangat datang ke Titian untuk belajar. Saya sangat bersyukur bisa berkesempatan untuk berinteraksi dan mengajarkan Bahasa Inggris kepada mereka dengan bantuan dan dampingan dari Mbak Nurul. Melihat kemajuan mereka di penghujung hari adalah suatu kebanggaan. Kesempatan istimewa lainnya dapat bertemu dengan alumni beasiswa Titian dan dapat berbagi serta menyemangati mereka untuk belajar di luar negeri, mengajarkan menulis esai dan surat motivasi. Dapat menyaksikan bagaimana Titian mendampingi dan memotivasi para siswa untuk kuliah di perguruan tinggi sungguh sangat mengharukan.

Tidak hanya bahagia dalam membantu Titian, saya juga bisa belajar mengenai kebudayaan Indonesia dari mereka, tidak hanya dengan mempraktekkan Bahasa Indonesia dengan penduduk lokal, para staf dan anak-anak, tetapi juga belajar membuat batik kayu, pergi ke pasar pada pagi hari untuk membeli buah dan tempe yang kemudian saya jadikan ajang untuk belajar memasak makanan Indonesia (Tempe goreng- makanan favorit saya).

Teruntuk Titian Foundation, terima kasih sudah membuat saya sangat bahagia. Terima kasih untuk semua yang telah membantu saya dan untuk kesempatan yang sangat luar biasa ini. Pengalaman ini begitu membuka mata hati dan menjadi kenangan seumur hidup yang tidak akan saya lupakan. Saya berharap bisa segera kembali ke sini.

Sesi Perkenalan Titian di Dusun Teluk Kombal Lombok

19 January 2019

Sepertinya Ibu Lily – CEO dan Pendiri Titian – tidak bisa hanya duduk diam tiap kali mendengar ada bencana. Seperti ada tombol otomatis yang mengharuskan beliau pergi untuk melihat apa yang ia dan Titian bisa lakukan untuk meringankan beban. Ketika gempa bumi dahsyat mengguncang Lombok pada bulan Agustus 2018, Ibu Lily tidak membuang waktu untuk pergi dan melihat kehancuran yang diakibatkannya.

Setelah menghabiskan satu minggu menyusuri beberapa desa, beliau menemukan Teluk Kombal, sebuah dusun di bagian utara Lombok, di mana semua rumah hancur rata dengan tanah. Tidak hanya itu, masyarakat harus terus dihantui mimpi buruk karena gempa susulan yang kerap terjadi setiap hari dan karenanya menyebabkan banyak trauma. Ibu Lily menilai kehadiran dan kontribusi Titian akan sangat bermanfaat bagi masyarakat tersebut. Beliau kemudian segera melapor ke Dewan Pembina Titian and berhasil menggalang donor untuk mendanai program jika Titian ingin bekerja di sana.

Rencana untuk membuat Sentra Pembelajaran Masyarakat (CLC) dan Program Beasiswa kemudian digulirkan. Agar masyarakat mendukung niat baik kami, kami mengadakan hari perkenalan pada 19 Januari 2019, sebagai cara untuk memperkenalkan Titian kepada masyarakat dan menerima kami bekerja di desa mereka.

Setelah memperkenalkan program dan pencapaian Titian, dua alumni Beasiswa – Galih Khori Aldino dan Suryanti – melanjutkan sesi dengan menceritakan pengalaman mereka sebagai penerima Beasiswa Titian. Keduanya berasal dari Generasi awal – Generasi 2 – sudah bergelar sarjana dan punya pekerjaan mapan. Mereka mengingat kembali keputusasaan yang mereka rasakan akibat gempa bumi Yogyakarta tahun 2006. Mereka sudah cukup umur ketika kehancuran terjadi. Galih bahkan masih tersedak haru ketika mengingat pendidikannya mungkin akan berakhir di SMP dan mimpi akan masa depan yang lebih baik harus dikubur bersama dengan puing reruntuhan. Galih dan Suryanti keduanya mendorong orang tua untuk memberi kesempatan kepada anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan formal, dimana peluang pekerjaan mereka nantinya akan jauh lebih baik jika mereka berpendidikan lebih tinggi.

Di minngu tersebut, Fasilitator Beasiswa Titian – Timo – telah mengunjungi tiga SMP dan menyampaikan informasi tentang Program Beasiswa. Waktu sudah ditetapkan untuk mengumpulkan aplikasi dan wawancara bagi calon penerima manfaat.